5 Gangguan Psikologi pada Remaja yang Perlu Diwaspadai

5 gangguan psikologi pada remaja

Masa Remaja

Masa remaja adalah fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang penuh dengan perubahan, baik secara fisik maupun emosional. 

Dalam perjalanan ini, banyak remaja mengalami tekanan yang dapat memicu gangguan psikologis. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan ini bisa berdampak serius pada kehidupan mereka. 

5 Gangguan Psikologi pada Remaja dan Contohnya

Berikut adalah lima gangguan psikologi yang sering terjadi pada remaja beserta contohnya.

1. Depresi 

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat dalam aktivitas, dan penurunan energi. Depresi pada remaja sering kali sulit dikenali karena mereka mungkin menyembunyikan perasaan mereka atau mengekspresikannya dalam bentuk kemarahan dan agresi.

Contoh: Seorang remaja bernama Dika dulunya aktif dalam kegiatan sekolah dan senang bermain bersama teman-temannya. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ia menjadi pendiam, sering menyendiri, dan kehilangan minat pada hobi yang dulu disukainya. Bahkan, prestasinya di sekolah mulai menurun karena ia kesulitan berkonsentrasi.

2. Gangguan Kecemasan 

Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa khawatir berlebihan yang tidak proporsional dengan situasi yang dihadapi. Remaja yang mengalami gangguan kecemasan sering kali merasa cemas tentang masa depan, hubungan sosial, atau tuntutan akademik.

Contoh: Siti adalah seorang remaja yang selalu merasa gelisah sebelum ujian, bahkan hingga mengalami sakit perut dan sulit tidur. Rasa takutnya begitu besar sehingga ia terkadang memilih untuk tidak masuk sekolah pada hari ujian karena khawatir akan gagal.

3. Gangguan Makan (Eating Disorder) 

Gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa sering terjadi pada remaja, terutama pada mereka yang merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Gangguan ini dapat berujung pada masalah kesehatan serius jika tidak segera ditangani.

Contoh: Rina selalu merasa bahwa tubuhnya terlalu gemuk meskipun berat badannya sudah ideal. Ia mulai mengurangi makan secara ekstrem dan sering memuntahkan makanannya setelah makan. Teman-temannya mulai menyadari bahwa tubuh Rina semakin kurus, tetapi ia tetap merasa bahwa dirinya masih belum cukup langsing.

4. Gangguan Perilaku dan Emosi 

Gangguan ini meliputi perilaku agresif, impulsif, serta kesulitan dalam mengendalikan emosi. Remaja dengan gangguan ini sering kali mengalami masalah dalam hubungan sosial dan memiliki konflik dengan orang tua atau guru.

Contoh: Budi sering terlibat dalam perkelahian di sekolah dan sulit menerima aturan. Ia mudah marah dan sering melawan guru atau orang tuanya. Ketika diberi tugas sekolah, ia menolaknya dengan alasan malas dan tidak peduli dengan masa depannya.

5. Gangguan Identitas dan Kepercayaan Diri 

Remaja sering kali mengalami krisis identitas, di mana mereka merasa bingung dengan siapa diri mereka sebenarnya dan bagaimana mereka harus bersikap. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya kepercayaan diri dan kesulitan dalam membangun hubungan sosial.

Contoh: Andre sering membandingkan dirinya dengan teman-temannya di media sosial dan merasa tidak cukup baik. Ia merasa minder karena menganggap dirinya tidak sehebat orang lain, sehingga ia sering menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum.

Kesimpulan 

Gangguan psikologi pada remaja adalah masalah serius yang perlu diperhatikan oleh orang tua, guru, dan masyarakat. Mengenali gejala-gejala awal dan memberikan dukungan emosional serta bantuan profesional sangat penting agar remaja dapat menghadapi tantangan mereka dengan lebih baik.

Daftar Pustaka

  • American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
  • Santrock, J. W. (2018). Adolescence. New York: McGraw-Hill Education.
  • WHO. (2021). Adolescent Mental Health. Retrieved from https://www.who.int/

Posting Komentar