Dampak Sleep Call terhadap Kepribadian menurut Ilmu Psikologi

sleep call

Sleep call adalah aktivitas komunikasi melalui telepon atau video call yang dilakukan sebelum tidur dan sering kali berlangsung hingga salah satu pihak tertidur. 

Tren ini semakin populer di kalangan pasangan, sahabat, atau bahkan keluarga sebagai bentuk kedekatan emosional. 

Namun, bagaimana sleep call memengaruhi kepribadian seseorang dari sudut pandang psikologi?

Dampak Sleep Call terhadap Kepribadian

1. Meningkatkan Keterikatan Emosional

Sleep call dapat mempererat hubungan antar individu karena menciptakan rasa nyaman dan keintiman emosional. Menurut teori Attachment dari John Bowlby, individu yang sering berkomunikasi sebelum tidur cenderung memiliki keterikatan yang lebih kuat, terutama dalam hubungan romantis.

Contoh: Seorang pasangan yang melakukan sleep call setiap malam akan merasa lebih dekat secara emosional karena mereka saling berbagi cerita sebelum tidur. Hal ini membantu membangun rasa aman dan kepercayaan satu sama lain.

2. Memengaruhi Pola Tidur

Meskipun sleep call memberikan kenyamanan, kebiasaan ini dapat mengganggu kualitas tidur. Menurut penelitian dalam jurnal "Sleep Health", paparan layar ponsel sebelum tidur dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur.

Contoh: Seseorang yang terbiasa melakukan sleep call hingga larut malam mungkin mengalami kesulitan tidur nyenyak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatannya secara keseluruhan.

3. Menumbuhkan Ketergantungan Emosional

Sleep call dapat membuat seseorang terlalu bergantung secara emosional pada pasangan atau teman mereka. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai emotional dependency, di mana seseorang merasa sulit tidur tanpa kehadiran virtual orang lain.

Contoh: Jika seseorang terbiasa dengan sleep call setiap malam, mereka mungkin merasa gelisah atau kesepian ketika pasangannya tidak tersedia untuk menelepon. Hal ini bisa menjadi tanda bahwa mereka memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang lain dalam mengelola emosinya.

4. Meningkatkan Kecemasan atau Stres

Bagi beberapa orang, sleep call bisa menjadi sumber stres jika terjadi masalah dalam komunikasi, seperti tidak adanya balasan dari pasangan atau ketidaksepakatan sebelum tidur. Menurut teori Cognitive Behavioral Therapy (CBT), kebiasaan ini dapat memperkuat pola pikir negatif yang berkontribusi terhadap kecemasan.

Contoh: Seorang individu yang terbiasa tidur dengan sleep call mungkin akan merasa cemas jika pasangannya tidak menjawab teleponnya, sehingga menimbulkan overthinking yang berdampak buruk pada kesejahteraan mentalnya.

5. Meningkatkan Keterbukaan dan Komunikasi

Sebaliknya, sleep call juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterbukaan dalam hubungan. Berdasarkan teori Self-Disclosure oleh Sidney Jourard, komunikasi sebelum tidur sering kali memungkinkan seseorang untuk lebih terbuka dalam berbagi perasaan dan pengalaman.

Contoh: Dua sahabat yang melakukan sleep call setiap malam dapat lebih memahami satu sama lain karena mereka memiliki ruang untuk bercerita secara lebih mendalam tanpa gangguan dari aktivitas harian.

Kesimpulan

Sleep call memiliki dampak yang beragam terhadap kepribadian seseorang. Di satu sisi, kebiasaan ini dapat meningkatkan kedekatan emosional, keterbukaan, dan rasa nyaman dalam hubungan. 

Namun, di sisi lain, sleep call juga dapat menimbulkan ketergantungan emosional, gangguan tidur, dan kecemasan jika tidak dilakukan dengan bijak. 

Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan emosional dan kesehatan fisik agar sleep call tetap menjadi kebiasaan yang bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss. New York: Basic Books.
  • Jourard, S. M. (1971). Self-Disclosure: An Experimental Analysis of the Transparent Self. New York: Wiley.
  • National Sleep Foundation. (2020). "How Screen Time Affects Sleep." Sleep Health Journal.
  • Cognitive Behavioral Therapy Institute. (2021). "Managing Emotional Dependency in Relationships." Journal of Behavioral Psychology.

Posting Komentar