Dalam kehidupan sehari-hari, istilah "penyakit jiwa" dan "penyakit mental" sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan, baik dari segi definisi, penyebab, maupun dampaknya terhadap individu yang mengalaminya.
Dalam artikel ini Fillamenta akan membahas perbedaan antara penyakit jiwa dan penyakit mental agar masyarakat dapat memahami konsep tersebut dengan lebih baik.
Definisi Penyakit Jiwa dan Penyakit Mental
1. Penyakit Jiwa
Penyakit jiwa merupakan gangguan yang lebih berat dan kompleks dibandingkan penyakit mental. Penyakit jiwa biasanya menyebabkan seseorang kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, baik dalam berpikir, berperilaku, maupun berinteraksi dengan orang lain.
Contoh penyakit jiwa:
- Skizofrenia – Gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, dan gangguan berpikir.
- Psikosis – Kondisi di mana seseorang kehilangan kontak dengan realitas dan mengalami gangguan persepsi.
2. Penyakit Mental
Penyakit mental adalah gangguan yang berkaitan dengan kondisi emosional dan psikologis seseorang. Gangguan ini tidak selalu menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran atau realitas, tetapi dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan hubungan sosial.
Contoh penyakit mental:
- Depresi – Perasaan sedih yang mendalam dan berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Gangguan kecemasan – Kondisi yang ditandai dengan rasa cemas berlebihan yang sulit dikendalikan.
- Gangguan obsesif kompulsif (OCD) – Gangguan yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku kompulsif yang sulit dikendalikan.
Perbedaan Antara Penyakit Jiwa dan Penyakit Mental
Aspek | Penyakit Jiwa | Penyakit Mental |
---|---|---|
Definisi | Gangguan psikologis berat yang memengaruhi realitas seseorang. | Gangguan emosional dan psikologis yang mengganggu keseharian tetapi tidak selalu menyebabkan kehilangan realitas. |
Kesadaran terhadap kondisi | Umumnya tidak menyadari bahwa dirinya sakit. | Biasanya menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan. |
Pengobatan | Membutuhkan perawatan medis yang lebih intensif, seperti rawat inap dan terapi jangka panjang. | Bisa ditangani dengan terapi psikologis, dukungan sosial, dan obat-obatan ringan. |
Contoh | Skizofrenia, psikosis | Depresi, gangguan kecemasan, OCD |
Ciri-ciri Penyakit Jiwa dan Penyakit Mental
Kesehatan mental adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Namun, tidak sedikit orang yang mengalami gangguan mental atau penyakit jiwa tanpa menyadarinya. Penyakit mental mencakup berbagai gangguan yang memengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku seseorang.
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri penyakit jiwa dan penyakit mental beserta contohnya agar lebih mudah dipahami.
1. Gangguan Emosi yang Berlebihan
Orang yang mengalami penyakit jiwa sering menunjukkan gangguan emosi yang tidak wajar. Mereka bisa tiba-tiba merasa sedih tanpa alasan yang jelas atau mengalami kebahagiaan yang berlebihan.
- Contoh: Seseorang yang mengalami gangguan bipolar bisa merasa sangat bersemangat dan penuh energi dalam satu waktu (mania), lalu tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa (depresi) dalam waktu singkat.
2. Perubahan Perilaku Secara Drastis
Ciri lain dari penyakit mental adalah perubahan perilaku yang tidak biasa dan bertahan dalam waktu lama. Orang yang mengalami gangguan mental bisa menunjukkan perilaku yang sulit dipahami atau tidak sesuai dengan norma sosial.
- Contoh: Penderita skizofrenia sering kali berbicara sendiri, merespons suara yang tidak ada, atau memiliki ketakutan yang tidak beralasan terhadap orang di sekitarnya.
3. Kesulitan dalam Berpikir dan Mengingat
Penyakit jiwa juga dapat memengaruhi fungsi kognitif seseorang, seperti kesulitan berkonsentrasi, berpikir jernih, atau mengingat sesuatu dengan baik.
- Contoh: Seseorang yang mengalami demensia dapat mengalami kesulitan mengenali anggota keluarganya sendiri atau lupa akan kejadian yang baru saja terjadi.
4. Ketakutan atau Kecemasan yang Berlebihan
Kecemasan yang tidak wajar dan tidak berdasar bisa menjadi tanda adanya gangguan mental. Orang dengan gangguan kecemasan sering merasa khawatir atau takut terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya.
- Contoh: Orang dengan gangguan kecemasan sosial merasa takut berinteraksi dengan orang lain hingga memilih menghindari pertemuan atau percakapan.
5. Gangguan Tidur dan Pola Makan
Orang yang mengalami gangguan mental sering mengalami perubahan dalam pola tidur dan makan. Mereka bisa mengalami insomnia atau tidur berlebihan, serta kehilangan nafsu makan atau makan secara berlebihan.
- Contoh: Penderita depresi sering kali kehilangan nafsu makan dan sulit tidur, sedangkan seseorang dengan gangguan makan seperti anoreksia bisa secara ekstrem mengurangi asupan makanannya karena takut menjadi gemuk.
6. Ketidakmampuan Mengendalikan Diri
Beberapa gangguan mental menyebabkan seseorang kehilangan kendali terhadap emosinya, yang sering kali mengarah pada tindakan impulsif atau berbahaya.
- Contoh: Penderita gangguan kepribadian borderline (Borderline Personality Disorder) sering kali menunjukkan tindakan impulsif seperti menyakiti diri sendiri atau membuat keputusan yang merugikan dalam hidupnya.
7. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Orang yang mengalami gangguan mental sering kali merasa tidak nyaman dalam lingkungan sosial dan lebih memilih untuk mengisolasi diri.
- Contoh: Seseorang yang mengalami depresi berat mungkin lebih suka menghabiskan waktu sendirian di kamar dan menolak berinteraksi dengan keluarga atau teman.
Kesimpulan
Penyakit jiwa dan penyakit mental dapat memiliki berbagai gejala yang memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang.
Memahami perbedaan antara penyakit jiwa dan penyakit mental sangat penting agar kita dapat memberikan dukungan yang tepat bagi individu yang mengalaminya.
Penyakit jiwa cenderung lebih berat dan membutuhkan penanganan medis yang lebih intensif, sedangkan penyakit mental bisa diatasi dengan terapi psikologis dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Jika seseorang mengalami beberapa gejala di atas dalam jangka waktu yang lama, penting untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Oleh karena itu, kesadaran dan edukasi tentang kesehatan mental harus terus digalakkan agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan psikologis individu di sekitarnya.
Daftar Pustaka
- Nolen-Hoeksema, S. (2014). Abnormal Psychology. McGraw-Hill.
- Sarafino, E. P. (2019). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. New York: John Wiley & Sons.
- American Psychiatric Association. (2020). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Washington, DC.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Kesehatan Mental Masyarakat. Jakarta: Kemenkes RI.
- World Health Organization. (2021). Mental Health Disorders Overview. Retrieved from https://www.who.int
- WHO. (2022). Mental health: Strengthening our response. Retrieved from www.who.int
Posting Komentar